TNI: Alat Negara atau Robot Bernyawa yang Tunduk Kepada Perintah Komando Atasan

BERITA OPINI
TNI: Alat Negara atau Robot Bernyawa yang Tunduk Kepada Perintah Komando Atasan
Oleh: Letda Laut (S) Ilham Fahruzi
Newwartaindonesia/Surabaya — Sebutan “TNI adalah Alat Negara” kembali mengundang diskusi tajam di kalangan prajurit dan masyarakat. Jika TNI memang alat negara, muncul pertanyaan mendasar: mengapa tenaga manusia sebagai tentara masih dipertahankan? Mengapa tidak diganti sepenuhnya dengan robot, kecerdasan buatan, dan energi surya?
Pertanyaan itu wajar di era teknologi militer yang kian maju. Drone tempur, tank tanpa awak, hingga AI untuk analisis intelijen sudah bukan fiksi. Lantas, apa yang membuat manusia tetap menjadi tulang punggung pertahanan negara?
Jawabannya justru sederhana, tanpa perlu teori berbelit:
1. Mesin mudah rusak.
Alutsista canggih tetaplah buatan manusia. Di medan operasi sesungguhnya, lumpur, hujan, pasir, dan hantaman membuat komponen mekanik rentan gagal. Seorang prajurit bisa menambal luka, memperbaiki senjata dengan kawat, dan tetap maju. Robot yang as roda patah akan berhenti jadi besi tua.
2. Kecerdasan buatan seringkali error, dan jika error sulit dikendalikan.
AI hebat dalam pola, tapi perang tidak pernah sepenuhnya berpola. Error pada sistem bisa berarti salah mengidentifikasi kawan jadi lawan. Prajurit punya nurani, penilaian situasi, dan kemampuan mengambil keputusan moral di detik genting. Itu belum bisa diprogram.
3. Ketergantungan pada kelistrikan rawan di medan ekstrem.
Robot dan sistem elektronik butuh daya. Medan air, lumpur, dan suhu dingin yang mengembun adalah musuh utama sirkuit. Konsleting di tengah operasi bukan hanya melumpuhkan alat, tapi juga membahayakan misi. Sementara tubuh manusia, dengan logistik yang tepat, mampu adaptif dari hutan Kalimantan sampai palung laut.
Karena itu, sebutan “alat negara” bukan mereduksi prajurit jadi benda mati. Justru menegaskan: TNI adalah alat negara yang bernyawa. Tunduk pada perintah komando atasan sebagai bentuk disiplin dan hierarki, namun tetap membawa akal, hati, dan kehormatan yang tidak bisa diunduh ke dalam chip.
Teknologi akan terus membantu, tapi jiwa Sapta Marga tidak bisa digantikan kabel dan kode. Di sanalah alasan mengapa seragam loreng masih diisi manusia, bukan mesin. (B2L)






